Selasa, 30 Agustus 2016

24 Maret 1975,
Ronde ke 9 Muhammad Ali tampak gusar, Chuck Wepner masih bertahan bahkan berhasil menjatuhkan Ali untuk pertama kali. Meskipun akhirnya sang juara Ali berhasil menaklukan Wepner di Ronde ke 15, namun pertandingan tersebut mampu membuat seorang Sylvester Stallone terinspirasi melahirkan tokoh film legendaris Rocky Balboa setahun kemudian.

Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Stallone bukan terinspirasi oleh kegagahan sosok Ali diatas ring, melainkan Chuck Wepner yang terus dengan gigih bertahan sepanjang pertandingan, menahan hujaman pukulan demi pukulan. Jatuh, berdiri lagi, jatuh berdiri lagi. Sosok tersebutlah yang akhirnya ia tanamkan pada karakter Rocky Balboa.

Sosok Rocky memang bukanlah sosok petinju unggulan dengan keterampilan kelas dunia. Rocky digambarkan sebagai petinju underdog yang mengandalkan kegigihan dan kerja keras untuk naik ke atas ring. Babak belur, tidak menyerah dan mengalahkan lawan-lawannya

Menjadi sosok elite, penuh cahaya nan glamor tentu sangat menggoda kita sebagai manusia. Namun jangan lupa, hal tersebut juga sangat memabukan.

Sederet seminar sering mengajarkan kita bagaimana memiliki mindset juara. Namun tidak pernah / jarang yang mengajarkan bagaimana memiliki mindset sebagai penantang.Penantang adalah sosok yang selalu bekerja keras, karena ia sadar, ia bukanlah unggulan. Sadar jika dirinya mungkin tidak memiliki talenta sebesar sang juara. Sehingga ia terus berusaha mencari cara-cara baru yang penuh ketidakpastian. Nothing to loose karena memang sudah dibawah. Menjadi pemenang dan besar sering membuat seseorang lengah, jumawa dan bahkan takut kalah. Menjadi penantang berarti membuat anda melepaskan beban dan menyerahkan hasil pada usaha serta kerja keras.

Paul Stoltz, 1997 bahkan membuat istilah yang bagus ketika memperkenalkan konsep Adversity Quotient, sebuah konsep yang mengukur ketangguhan seseorang ketika menghadapi cobaan.

Stoltz memperkenalkan 3 tipe manusia berdasarkan ketangguhannya menghadapi cobaan.Yang pertama adalah mereka yang menghindari cobaan yang disebut QUITER. Tipe kedua disebut CAMPER adalah mereka yang berani menghadapi cobaan yang masih dalam kendali mereka, mereka berhenti dan menolak mencoba tantangan yang lebih besar. Dan yang terakhir adalah CLIMMBER mereka yang terus mencoba mengatasi rintangan-rintangan yang terus muncul di hidup mereka. Set the new height and raise the bar sehingga mereka meraih hal-hal luar biasa dalam hidupnya

Seorang climmber bagi saya adalah seorang penantang, sedangkan Winner seringkali terjebak menjadi Camper.Ini membuat saya paham mengapa Stoltz menggunakan kata Climmber (pemanjat) dibandingkan Summiter (orang yang berhasil sampai puncak).Menjadi pemenang berarti kita fokus pada hasil, sedangkan menjadi penantang kita fokus pada proses sebelum hasil.

Siapapun kita hari ini, menjadi penantang memberikan kendali lebih banyak bagi hidup kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar